Masakan Khas Timur
1. Kebab
by,
2.Nasi kebuli
Kisah nasi kebuli dimulai ketika para pemuka agama asal
Hadramaut, Yaman, memiliki misi menyebarkan agama Islam di negeri India. Sama
halnya dengan Indonesia, negara India yang memiliki jumlah penduduk Mslim
terbanyak kedua di dunia ini juga mengonsumsi beras sebagai bahan makanan
pokok. Untuk menyambung lidah antara cita rasa Yaman dan India,
para ulama akhirnya mencampur-adukkan rempah-rempah asal Timur Tengah dan
India. Sehingga terciptalah makanan dengan aroma khas tersendiri. Tak sampai di
situ, para ulama kemudian melakukan beberapa percobaan untuk menyempurnakan
cita rasa nasi buatan mereka. Dengan melalui banyak eksperimen, ditambahlah
bahan utama lainnya yaitu daging kambing.
Di lain sisi, penyebaran agama Islam di India dan sekitarnya
terbilang sukses. Karena itu para ulama memutuskan untuk memperluas wilayah ke
negara lainnya. Pilihan lantas jatuh pada Indonesia, yang pada zaman itu
dikenal sebagai surga rempah-rempah. Para ulama ternyata menemukan bahwa
penduduk Indonesia sama halnya dengan India yang menyantap nasi sebagai bahan
pangan utama. Bedanya, Indonesia memiliki lebih banyak bumbu yang nantinya
dimasukkan dalam racikan nasi kebuli versi Indonesia.
Namun, masyarakat Betawi yang sudah lebih dulu mengenal
resep nasi kebuli dari orang Koja tetap membuat nasi kebuli ala orang Koja
(Gujarat). Karena lekat dengan tradisi Betawi, nasi kebuli akhirnya diakui
sebagai masakan Betawi. Di kalangan masyarakat Betawi, selain disajikan pada
peringatan maulid Nabi, nasi kebuli dihidangkan di acara-acara tradisi mereka.
Pada tahun 1960-an, nasi kebuli tidak hanya disajikan di
acara formal, namun juga mulai dijajakan di pasar. Di Condet, masih banyak yang
menjajakan nasi kebuli Betawi. Maklum kawasan ini kantong peranakan Hadramaut
Betawi terbesar. Beberapa warung yang terkenal di sana antara lain RM Puas,
Sate Tegal Abu Salim, Warung Sewun, dan Restoran Al-Mulaka.
3.Samosa/Samboosa
4.Hummus
Makanan yang berupa puree, bubur atau saus cocolan ini berbahan dasar kacang kedelai yang dihaluskan, lentini, tahini (wijen giling), minyak zaitun, air lemon, garam dan bawang putih. Hummus biasa dimakan dengan roti pita kering dan sayuran. Agar terlihat cantik, Hummus disajikan dengan irisan tomat, chickpea, tortila yang ditaruh di tengahnya. Cara menikmatinya dengan menyobek sedikit roti pita lalu mencocolkannya di hummus.
5. Roti Prata/Maryam/Canai/Cane
Nama kebab berasal dari bahasa Arab: kabab
(کباب) yang awalnya berarti daging goreng, bukan daging panggang/bakar.
Kata kabab kemungkinan berasal dari bahasa Aram: כבבא kabbābā yang mungkin
berasal dari bahasa Akkadia: kabābu yang berarti "bakar,
panggang".Pada abad ke-14, kebab menjadi sinonim dengan tabahajah,
hidangan berupa potongan daging goreng dalam bahasa Persia. Dalam buku-buku
berbahasa Turki, istilah kebab sering dipakai untuk bola-bola daging yang
dibuat dari daging ayam atau daging domba cincang. Istilah kebab baru berarti
hidangan daging panggang (shish kebab) sejak zaman Kesultanan Utsmaniyah, namun
masih ada istilah lain yang lebih kuno untuk daging panggang, yakni shiwa` (شواء
) asal bahasa Arab. Walaupun demikian, kebab masih dipakai dalam pengertian
aslinya dalam berbagai hidangan seperti semur, misalnya tas kebab (kebab dalam
mangkuk) dari Turki. Dalam masakan Mesir ada hidangan semur daging sapi dan
bawang bombay yang disebut kebab halla.
Makanan khas Timur Tengah ini menurut sejarahnya
berasal dari Turki. Namun ada juga yang mengatakan dari Arab yang dikenal
dengan Kabbeh. Makanan khas ini mulai meluas ketika para pedagang Turki
mengadakan kontak dengan masyarakat kota Berlin, Jerman sekitar abad 18.
Aslinya daging kebab dipanggang, disajikan dengan roti pita, paprika, dan saus.
Dalam perkembangannya mengalami penyesuaian dan pencampuran dengan kebiasaan masyarakat Jerman. Di mana Kebab disajikan juga dengan aneka roti dan salad. Pola pemanggangan daging Kebab pun mulai berkembang dari tradisional ke pola modern menggunakan pemanggangan elektrik maupun gas. Di Jerman sendiri saat ini Kebab mampu menyaingi Hamburger yang sudah lama mereka kenal.
Dewasa ini Kebab telah merambah berbagai belahan dunia, Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika, Kanada, Australia, Jepang, Cina, Malaysia, Indonesia. Makanan ini sudah tidak asing lagi buat mereka. Mahasiswa dari Ubekistan yang kuliah di Indonesia, misalnya, akan langsung menunjuk Kebab sebagai pilihan makanan ringan mereka tanpa bertanya-tanya lagi apa itu Kebab. Bahkan ketika melihat cara penyajiannya pun mereka tidak merasa heran kendati polanya berbeda dengan negara asalnya.
Memang cara penyajian Kebab antara satu negara dengan negara lainnya berbeda-beda, karena biasanya diadaptasikan dengan kebiasaan setempat atau disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Di Indonesia saat ini, Kebab mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan. Menggunakan counter bergerak para penjaja menyajikan Kebab dengan versinya masing-masing. Umumnya menggunakan alat pemanggang atau burner yang ukurannya sudah dimodifikasi. Lebih kecil dari pada ukuran aslinya. Daging giling yang sudah berbumbu dipanggang dan dipotong tipis-tipis disajikan dengan sayuran dan sauce dibungkus roti pita atau sejenisnya.
Sedangkan pada Kebab Crush Zone memilih pendekatan lain. Yakni daging yang telah berbumbu dicetak lantas dipotong memanjang dengan ukuran yang lebih tebal. Dipanggang dengan alat panggangan anti lengket dan disajikan dengan sayuran, irisan timun, tomat dan aneka sauce pilihan, serta dibungkus roti Tortila, khas Meksiko. Hasilnya, Kebab Crush Zone akan lebih terasa dagingnya dan penuh aroma.
Dalam perkembangannya mengalami penyesuaian dan pencampuran dengan kebiasaan masyarakat Jerman. Di mana Kebab disajikan juga dengan aneka roti dan salad. Pola pemanggangan daging Kebab pun mulai berkembang dari tradisional ke pola modern menggunakan pemanggangan elektrik maupun gas. Di Jerman sendiri saat ini Kebab mampu menyaingi Hamburger yang sudah lama mereka kenal.
Dewasa ini Kebab telah merambah berbagai belahan dunia, Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika, Kanada, Australia, Jepang, Cina, Malaysia, Indonesia. Makanan ini sudah tidak asing lagi buat mereka. Mahasiswa dari Ubekistan yang kuliah di Indonesia, misalnya, akan langsung menunjuk Kebab sebagai pilihan makanan ringan mereka tanpa bertanya-tanya lagi apa itu Kebab. Bahkan ketika melihat cara penyajiannya pun mereka tidak merasa heran kendati polanya berbeda dengan negara asalnya.
Memang cara penyajian Kebab antara satu negara dengan negara lainnya berbeda-beda, karena biasanya diadaptasikan dengan kebiasaan setempat atau disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Di Indonesia saat ini, Kebab mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan. Menggunakan counter bergerak para penjaja menyajikan Kebab dengan versinya masing-masing. Umumnya menggunakan alat pemanggang atau burner yang ukurannya sudah dimodifikasi. Lebih kecil dari pada ukuran aslinya. Daging giling yang sudah berbumbu dipanggang dan dipotong tipis-tipis disajikan dengan sayuran dan sauce dibungkus roti pita atau sejenisnya.
Sedangkan pada Kebab Crush Zone memilih pendekatan lain. Yakni daging yang telah berbumbu dicetak lantas dipotong memanjang dengan ukuran yang lebih tebal. Dipanggang dengan alat panggangan anti lengket dan disajikan dengan sayuran, irisan timun, tomat dan aneka sauce pilihan, serta dibungkus roti Tortila, khas Meksiko. Hasilnya, Kebab Crush Zone akan lebih terasa dagingnya dan penuh aroma.
1. http://www.crushzonefunfood.com/index/kebab.htm
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Kebab
2.Nasi kebuli
Nasi kebuli tentu tidak asing lagi di Indonesia. Kuliner
yang memiliki cita rasa gurih dan kaya akan bumbu rempah ini dimasak dengan
menggunakan daging kambing, kaldu kambing dan susu kambing. Sebagai pelengkap,
nasi kebuli disajikan dengan acar, kismis, dan sambal. Hidangan yang sudah
menjadi menu khas Betawi ini merupakan hasil akulturasi budaya Arab di
Indonesia.
Sejarah Nasi Kebuli
Nasi Kebuli Betawi di Condet
Cerita lebih detail diungkap Windoro Adi di buku Batavia 1740:
Menyisir Jejak Betawi (2010). Ia menulis, di Indonesia, resep nasi kebuli
diperkenalkan orang-orang Kerala, India. Karena kepiawaian mereka memasak,
mereka dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, India, sebagai juru masak
kaapal.Selain berdagang, orang-orang Gujarat yang populer dengan
sebutan orang Koja ini juga menyebarkan agama Islam dan tradisi mereka,
termasuk makan nasi kebuli bersama. Kemudian, datang pula pedagang dari
Hadramaut, Yaman Selatan yang membawa resep nasi kebulinya sendiri--yang belum
terpengaruh resep India.
3.Samosa/Samboosa
Kue yang berbentuk segitiga ini terbuat dari daging cincang
yang ditumis dengan bumbu rempah dan sayuran berupa kentang, bawang bombay,
ketumbar, kacang polong, kemudian dibungkus dengan kulit lumpia dan digoreng.
Samosa cocok dinikmati sebagai cemilan.
Mungkin ini adalah salah satu makanan yang paling banyak
memiliki sejarah perjalanan dimulai dari Mesir lalu ke Cina hingga ke India.
Sejarah Samosa dimakan sebagai cemilan oleh para pegadang dan musafir di
perkemahan atau tempat istirahat selama perjalanan. Terdapat buku resep masakan
arab yang ditemukan dari abad ke 10 dan tercatat dengan nama “sanbusak”. Pada
faktanya dalam bahasa Persia kata “Samsa” memiliki arti yaitu “Piramid”,
sehingga semua mulai bisa terlihat kaitannya. Sebagai catatan bahwa hingga saat
ini di mesir , “Samosa” oleh sebagian orang masih dikenal dengan nama
“sambusak”, yaitu hanya berbeda satu huruf m dan n.
Kurang lebih pada abad ke 11 lah baru para pedagang muslim
mulai membawa samosa dalam perjalanan mereka ke India. Hingga pada abad ke 13,
Samosa sudah tidak hanya dimakan oleh para pedagang saja, melainkan oleh para
pejabat, orang penting dan sultan/raja. Amir Khusro (1253-1325), cendekiawan
dan penyair kerajaan Kesultanan Delhi menulis sekitar tahun 1300 tentang para
pangeran dan kalangan bangsawan yang menyukai “samosa yang dibuat dari daging,
minyak samin, bawang bombay, dan lain lain. Bahkan pada abad ke 14, seorang
penjelajah terkenal Ibn Battuta dalam perjalanannya mencatat bahwa samushak
atau sambusak dengan isi daging cincang, kacang badam, kacang pistasio, dan
kacang walnut, dihidangkan didalam Istana Muhammad bin Tughluq(Delhi, India)
sebelum hidangan ketiga disajikan. Pada saat ini, jenis samosa yang paling
laris adalah Samosa Sayur.
Di Indonesia, samosa dipercaya dibawa oleh pada pedagang
dari Arab dan Gujarat, lalu kemudian menjadi terkenal sejak diperkenalkan dan
dipromosikan oleh restoran Arab dan India. Biasanya di Indonesia disebut
dengan sambosa atau samosa serta berisi campuran sayur dengan daging.
Sehingga bisa kita ambil lagi kesimpulan bahwa Samosa
berasal dari Mesir lalu menjadi terkenal di India. Ini adalah sebuah
sejarah samosa sebagai makanan yang sangat populer namun banyak yang belum
mengetahui asal usulnya.
Adaptasi Samosa di beberapa Negara
Seperti sudah dijelaskan bahwa Samosa memiliki sejarah yang sangat
lama dan banyak orang keliru akan sejarahnya ternyata bukan berasal dari India,
melainkan dari Mesir. Samosa memiliki banyak adaptasi dan versi di beberapa
Negara dan daerah. Di Timur Nepal, Samosa disebut “singadas”, sedangkan wilayah
lain menyebutnya samosa. “bajiya” adalah nama lain dari Samosa di Maldives yang
isinya adalah daging ikan dan bawang. Lain halnya di wilayah Uzbekistan,
Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Xianjiang, Samosa dikenala dengan nama “samsas”
namun tidak pernah digoreng, melainkan dipanggang. Sudah diakui bahwa samosa
paling enak bisa anda dapatkan di Faisalabad, sebuah kota di Pakistan dimana
Samosa sangat terkenal dan enak.
Makanan yang berupa puree, bubur atau saus cocolan ini berbahan dasar kacang kedelai yang dihaluskan, lentini, tahini (wijen giling), minyak zaitun, air lemon, garam dan bawang putih. Hummus biasa dimakan dengan roti pita kering dan sayuran. Agar terlihat cantik, Hummus disajikan dengan irisan tomat, chickpea, tortila yang ditaruh di tengahnya. Cara menikmatinya dengan menyobek sedikit roti pita lalu mencocolkannya di hummus.
5. Roti Prata/Maryam/Canai/Cane
Sebagian mengatakan roti ini berasal dari India dan diberi
nama Roti Cane karena berasal dari Chennai (Madras, India). Di negara lain,
roti ini disebut Prata (Malaysia, Singapura), Palata (Myanmar), atau Farata
(Mauritius). Di negara Eropa makanan ini dikenal sebagai Flying Bread (Roti
Terbang), sedang di Cina dinamai Yin Du Jiang Bing yang berarti Biskuit
Panggang India. Karakteristik unik dari makanan ini yaitu lapisan-lapisan tepungnya
yang tidak menyatu satu sama lain, dan memiliki rasa yang cenderung datar namun
gurih karena berbahan dasar tepung dan lemak. Roti ini juga dikatakan sebagai
cikal bakal Martabak yang berbahan dasar sama, hanya saja dengan beragam isian
daging dan bumbu di dalamnya.
Di Indonesia sendiri, roti Maryam lebih dikenal dibawa oleh para pedagang Arab, dan hingga kini masih banyak ditemui keturunan Hadharim yang mengkonsumsinya sebagai makanan keseharian mereka. Menurut tradisi yang berlaku, roti Maryam ditaburi gula atau madu ketika sarapan, dan dimakan dengan gule kacang hijau atau gule merah sebagai menu utama.
Di Indonesia sendiri, roti Maryam lebih dikenal dibawa oleh para pedagang Arab, dan hingga kini masih banyak ditemui keturunan Hadharim yang mengkonsumsinya sebagai makanan keseharian mereka. Menurut tradisi yang berlaku, roti Maryam ditaburi gula atau madu ketika sarapan, dan dimakan dengan gule kacang hijau atau gule merah sebagai menu utama.
Kuliner dengan nama unik ini berupa roti bulat berlapis yang
akan meleleh ketika masuk di mulut. Disajikan bersama kari, makanan tersebut
memiliki kenikmatan tersendiri. Tidak hanya kari, roti ini juga bisa disantap
dengan kuah lainnya. Karena menghadirkan cita rasa yang lezat, sajian khas Arab
Saudi ini cukup digemari oleh para pemburu kuliner di negeri asalnya. Roti
Canai sendiri adalah hidangan pokok bagi kaum expat di India Selatan dan saat
ini telah populer di kalangan masyarakat yang tinggal di Kerajaan.
by,http://www.rotimaryam.com/2014/10/asal-usul-roti-maryam-roti-canai-roti-prata.html
Komentar
Posting Komentar